Pendidikan Indonesia “Hilangan Arah”: Ketika Siswa SMP dan SMA Tak Bisa Baca dan Hitung

Di tengah gaungan Indonesia Emas 2045, pendidikan nasional justru sedang membunyikan alarm bahaya. Fakta memilukan tentang pendidikan nasional terungkap. Pendidikan nasional sedang berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Krisis ini bukan hanya tentang peringkat, melainkan tentang hilangnya kemampuan dasar pada generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung bagsa.

Fakta Di Lapangan Berbicara

Sebuah video viral dari Indramayu membuktikan krisis pendidikan: siswa kelas 9 SMP tidak bisa membaca dan siswa kelas 12 SMA tidak mampu menjawab 3×4. Bupati Indramayu mengaku kaget karena banyak lulusan SD di wilayahnya juga belum bisa membaca. Temuan serupa diungkap anggota DPR, di mana siswa kelas 1 SMP kesulitan menulis “Indonesia Raya”. Bahkan di Buleleng, Bali, tercatat 433 siswa SMP tidak bisa membaca, dan 43,1% siswa lainnya masih belum hafal abjad.

Selain itu, data nasional juga menunjukkan fakta menyedihkan. Berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, kemampuan literasi siswa SMA hanya sebesar 42,3% dan kemampuan numerasinya hanya 38,7%. Hal ini mengonfirmasi temuan PISA 2022 yang menempatkan Indonesia di peringkat 62 dari 78 negara, dengan 75% siswa usia 15 tahun memiliki kemampuan membaca di bawah standar dan 82% kemampuan matematika mereka berada di level rendah. Fakta lainnya, sekitar 1,8 juta anak Indonesia per tahunnya putus sekolah sebelum menyelesaikan jenjang SMA. Kondisi ini seakan menegaskan bahwa seluruh sistem pendidikan nasional sedang “kehilangan arah.”

Akar Masalah: Kemampun Dasar Tak Lagi Jadi Syarat Kelulusan

Dua kebijakan menjadi akar utama rendahnya kemampuan calistung siswa. Pertama, kebijakan yang membolehkan siswa naik kelas tanpa menguasai calistung, termasuk “naik kelas otomatis” yang diakui Menteri Abdul Muti sebagai penyebab banyak siswa SMP belum bisa membaca. Kedua, penghapusan tes calistung sebagai syarat masuk SD mulai tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan ini justru dikhawatirkan semakin menurunkan standar kemampuan dasar, sehingga siswa yang tidak memiliki fondasi calistung akan terus naik ke jenjang SMP dan SMA, menciptakan generasi “lulus sekolah” tapi buta huruf dan hitung. Kondisi darurat ini bukanlah sesuatu yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja.

Kita tidak bisa terus menutup mata. Data dan fakta sudah berbicara. Kualitas pendidikan Indonesia sedang dalam kondisi darurat. Membiarkan siswa SMP dan SMA tidak bisa membaca dan berhitung adalah sebuah kegagalan sistemik yang tidak bisa ditoleransi. Sudah saatnya kita berhenti berdebat tentang kebijakan yang melemahkan esensi pendidikan, dan segera bertindak nyata untuk mengembalikan marwah sekolah sebagai tempat di mana kemampuan dasar benar-benar dikuasai. Jika tidak, cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan terus menjadi mimpi yang tak kunjung usai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *