Apa Itu Syukur?
Syukur bukan sekadar ucapan “terima kasih” atau “alhamdulillah” sesaat. Dalam Islam, syukur memiliki makna yang sangat luas. Menurut jurnal yang ditulis oleh A. Malik Madany dari UIN Sunan Kalijaga, syukur mencakup tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota tubuh.
- Hati merasakan dan menyadari nikmat Allah.
- Lisan mengucap pujian kepada Allah.
- Anggota tubuh menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang diridhai Allah, bukan untuk maksiat.
Jadi, seseorang baru disebut bersyukur jika ia menggunakan mata, telinga, tangan, dan seluruh nikmat lainnya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Misalnya, mata digunakan untuk melihat hal-hal baik, bukan untuk melihat yang haram. Tangan digunakan untuk membantu, bukan memukul atau merusak.
Mengapa Syukur Itu Sulit?
Allah berfirman dalam QS. Saba’ ayat 13:
Dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.
Menurut Imam al-Ghazali, penyebab utama manusia sulit bersyukur ada dua: kebodohan dan kelalaian. Banyak orang tidak sadar bahwa nikmat sekecil apa pun, seperti sehat, bisa bernapas, atau melihat matahari terbit, adalah karunia besar dari Allah. Mereka baru sadar setelah nikmat itu dicabut.
Untuk melatih rasa syukur, al-Ghazali menyarankan kita memperhatikan orang-orang yang keadaannya lebih sulit dari kita. Rasulullah SAW bersabda:
Pandanglah orang yang lebih rendah darimu, dan janganlah memandang orang yang di atasmu. Itu lebih pantas agar engkau tidak meremehkan nikmat Allah. (HR. Muslim)
Apa yang Terjadi Jika Kita Bersyukur?
Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Dalilnya sangat terkenal dalam QS. Ibrahim ayat 7:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka azab-Ku sangat pedih.
Tambahan nikmat ini tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Sebaliknya, orang yang kufur nikmat bisa merasakan azab di dunia, seperti yang dialami kaum Saba’ yang negerinya makmur tetapi akhirnya dihancurkan karena ingkar.
Syukur adalah kunci nikmat dan kebahagiaan. Ia bukan hanya ucapan, tetapi sikap hati, lisan, dan perbuatan. Dengan syukur, nikmat bertambah dan hidup lebih bermakna. Mari kita latih diri untuk selalu sadar akan nikmat Allah, dan gunakan setiap nikmat itu untuk kebaikan. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang bersyukur.